Kamis, 07 November 2013

Kualitas Tidur dan Berat Badan


Penelitian ini melibatkan sebanyak 77 peserta, yang semuanya merupakan pasien diabetes tipe 2 atau orang dengan hampir dapat dipastikan menderita diabetes. Selama enam bulan, peserta diminta melakukan diet dan olahraga, atau ada yang melakukan diet saja. Pada awal dan akhir penelitian, peserta mengisi Survey Hopkins Sleep, yang mengidentifikasi masalah tidur, seperti sleep apnea, kelelahan siang hari, dan insomnia.

Setelah enam bulan, peserta di kedua kelompok berkurang bobotnya rata-rata sekitar 15 kilogram dan menghilangkan sekitar 15 persen dari lemak perut mereka. Kedua kelompok pun berhasil meningkatkan kualitas tidur mereka secara keseluruhan sekitar 20 persen dengan tidak ada perbedaan antara keduanya.

"Kunci untuk meningkatkan kualitas tidur dari studi kami adalah penurunan lemak tubuh secara keseluruhan, dan khususnya lemak perut. Penurunan berat badan dapat berasal dari diet saja atau diet ditambah olahraga,” kata Kerry Stewart, penulis studi sekaligus profesor kedokteran di Sekolah Johns Hopkins University of Medicine.

Tidur dan berat badan

Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa kualitas tidur berbanding lurus dengan berat badan yang ideal. Berat badan yang ideal dapat dicapai dengan diet dan olahraga teratur. Demikian sebuah komentar yang diterbitkan dalam jurnal Canadian Medical Association.

Menariknya, tidur pun dapat mempengaruhi berat badan. Kurang tidur menyebabkan kenaikan berat badan dan berbagai gangguan kesehatan. Bahkan bagi Anda yang tidak mengalami obesitas pun, kurang tidur dapat mengancam kelangsungan berat badan ideal Anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar